Bab 6: Roh Kudus Adalah Seorang Pribadi

Bab 7:
ROH KUDUS ADALAH SEORANG PRIBADI

Bab 6 dari Buku berjudul: “Putting The Pieces Together” oleh Pdt. Nader Mansour
www.revelation1412.org

Diterjemahkan oleh Yolanda Kalalo-Lawton

Kalimat yang tampak bermasalah (dalam bahasa asli): “The Holy Spirit is a person, for He beareth witness with our spirits that we are the children of God. When this witness is borne, it carries with it, its own evidence. At such times we believe and are sure that we are the children of God. . . . The Holy Spirit has a personality, else He could not bear witness to our spirits and with our spirits that we are the children of God. He must also be a divine person, else He could not search out the secrets which lie hidden in the mind of God. "For what man knoweth the things of a man, save the spirit of man which is in him? even so the things of God knoweth no man, but the Spirit of God.(Evangelism, pp. 616, 617).

Terjemahan: “Roh Kudus adalah seorang pribadi, sebab Dia bersaksi dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Ketika kesaksian ini diberikan, kesaksian ini sendiri menjadi bukti. Saat itu juga kita percaya dan yakin bahwa kita adalah anak-anak Allah… Roh Kudus memiliki suatu kepribadian, jika tidak, Dia tidak dapat memberi kesaksian kepada roh kita dan dengan roh kita (bersaksi) bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dia juga pasti adalah seorang pribadi Ilahi, jika tidak, Dia tidak dapat mencari rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam pikiran Allah. “Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. (Evangelism, Hal. 616, 617).


Jawaban singkat: Ayat yang dikutip dalam kalimat di atas yaitu 1 Korintus 2:11, adalah kunci untuk mengerti kutipan ini. Menurut Paulus, manusia dan roh manusia sama dengan Allah dan Roh-Nya. Seperti roh manusia bukan seorang pribadi yang berbeda dari dirinya sendiri, demikian juga Allah dengan Roh-Nya tidak berbeda dari diri-Nya sendiri. Roh Kudus bukan seorang pribadi lain yang berbeda dari Allah. Sama seperti roh manusia adalah pribadinya sendiri, demikian juga Roh Allah adalah pribadi-Nya Sendiri.

Jawaban terperinci: Ketika kita menggunakan Roh Nubuat sebagai kunci, kita akan mendapati prinsip-prinsip dasar penting.

“Kebesaran Allah bagi kita tidak dapat dimengerti. “Takhta Tuhan ada dalam surga” (Mazmur 11:4); namun oleh Roh-Nya, Dia hadir di mana-mana. Dia memiliki pengetahuan yang mendalam, dan secara pribadi tertarik pada semua pekerjaan tangan-Nya.” (Ny. White, Educataion, Hal. 132).

“Dengan memberi Roh-Nya, Allah memberi kita Diri-Nya sendiri, menjadikan Diri-Nya mata air pengaruh Ilahi, yang memberi kesehatan dan hidup kepada dunia.” (Ny. White, Testimonies, Vol. 7, Hal. 273).


Jika kita mengikuti prinsip-prinsip tersebut di atas, akan lebih mudah untuk mengerti. Roh punya kepribadian sebab Allah punya kepribadian. Dengan memberi Roh-Nya, Allah memberi Diri-Nya sendiri, dan bukan orang lain. Ketika Allah memberi kita Diri-Nya sendiri (dalam bentuk Roh), bukanlah tanpa kepribadian. Bukan pula sekedar kekuatan atau esensi yang tak berasal dari diri-Nya. Bukan! Yang diberikan-Nya adalah sesuatu yang sangat pribadi dan mendalam, yaitu pribadi Allah, lengkap dengan kepribadian-Nya sendiri. Hal yang sama berlaku pada fakta dimana Roh itu adalah pribadi Ilahi, yang berarti bahwa Allah adalah seorang pribadi Ilahi. Allah adalah Roh, tapi Dia juga adalah seorang pribadi.


“Allah adalah Roh; namun Dia adalah Makhluk pribadi; sebab demikianlah telah Dia nyatakan tentang diri-Nya sendiri;” (Ny. White, The Minsitry of Healing, Hal. 413).


Roh Kudus adalah seorang pribadi sebab Allah adalah seorang pribadi. Roh Kudus adalah pribadi Allah dan juga pribadi Kristus.

 

“Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Kristus di sini tidak mengacu pada doktrin-Nya, tetapi pada pribadi-Nya, ke-Ilahian dari karakter-Nya.” (Ny. White, Review and Herald, 5 April 1906, par. 2).

 

Inilah sebabnya Roh memiliki kepribadian dan adalah seorang pribadi.

 

“Terhalang oleh kemanusiaan, Kristus tidak dapat hadir di setiap tempat secara pribadi; oleh sebab itu adalah semata-mata untuk keuntungan mereka bahwa Dia harus meninggalkan mereka, pergi kepada Bapa-Nya, dan mengirimkan Roh Kudus sebagai penerus-Nya di bumi. Roh Kudus itu adalah Diri-Nya Sendiri terlepas dari kepribadian kemanusiaan dan bebas daripadanya.  Dia akan mewakili Diri-Nya Sendiri hadir di semua tempat melalui Roh Kudus, sebagai Yang Hadir Di Mana-Mana (Omnipresent).” (Ny. White, Manuscript Releases Vol. 14, Hal. 23)