Bab 7: Pribadi Ketiga Dari Ke-Allahan

Bab 7
Pribadi Ketiga Dari Ke-Allahan

Sumber: “Putting The Pieces Together” oleh Pdt. Nader Mansour
www.revelation1412.org

Terjemahan bebas oleh: Yolanda Kalalo-Lawton

Kalimat yang tampak bermasalah (dalam bahasa asli): “The prince of the power of evil can only be held in check by the power of God in the third person of the Godhead, the Holy Spirit.” Special Testimonies, Series A, No. 10, p. 37. (1897), and Evangelism, p. 617.

Terjemahan: “Pangeran kuasa jahat itu hanya dapat dikontrol oleh kuasa Allah dalam pribadi ketiga dari Ke-Allahan, Roh Kudus. -- (E.G. White, Special Testimonies, Series A, No. 10, hal. 37 (1897), dan Evangelisasi, Hal. 617.

Jawaban singkat: “Pribadi ketiga dari Ke-Allahan” di sini tidak berarti “pribadi ketiga dalam ke-Allahan”. Ny. White mengerti bahwa “pribadi ketiga dari ke-Allahan” tidak lain adalah hidup Kristus setelah Dia dimuliakan (yaitu kehidupan-Nya Sendiri), bukan seorang oknum yang berbeda dari diri-Nya dan dari diri Bapa. Hanya hidup Kristus yang sudah menang inilah yang dapat memberikan kemenangan atas dosa (tidak ada seorangpun di alam semesta yang dapat melakukannya). Kehidupan yang menang ini, disebut oleh Nyonya White sebagai “pribadi ketiga dari ke-Allahan”.

Jawaban terperinci: Jika kita mengikuti petunjuk Ilahi dan menggunakan kunci yang benar, yaitu Roh Nubuat menerangkan Roh Nubuat, semua kesalahpahaman dengan mudah dapat dihindarkan. Frase “pribadi ketiga dari ke-Allahan”, saat ini oleh banyak teolog diartikan sebagai seorang makhluk allah ketiga yang sederajat dengan Bapa dan Anak. Tapi marilah kita simak keterangan dari Ny. White sendiri (janganlah bandingkan dengan keterangan orang lain). Cara ini adalah cara yang paling aman untuk dilakukan jika kita benar-benar menginginkan kebenaran.

Siapakah Roh Kudus, pribadi ketiga dari ke-Allahan itu?

“Kristus mengatakan pada kita bahwa Roh Kudus adalah Penolong, dan Penolong adalah Roh Kudus, “Roh kebenaran, yang Bapa akan kirimkan dalam nama-Ku.” …. Ini mengacu pada omnipresence (kehadiran di mana-mana) dari Roh Kristus, yang disebut Penolong.” (E.G. White, Manuscript Releases Vol. 14, Hal. 179).

Sekarang, marilah kita membaca kutipan serupa untuk lebih mengerti konteks atau maksud yang sebenarnya:

“Roh diberikan sebagai agen regenerasi, dan tanpanya, pengorbanan Kristus akan sia-sia. Kuasa kejahatan telah menguat selama berabad-abad, dan kepasrahan manusia pada tawanan setan begitu menakjubkan. Dosa hanya dapat dilawan dan dikalahkan oleh agen perkasa dalam pribadi ketiga dari ke-Allahan, yang akan datang dengan kekuatan yang tak dimodifikasi, tapi dalam kepenuhan kuasa Ilahi. Rohlah yang mengefektifkan apa yang telah dilakukan oleh Penebus dunia. Rohlah yang membuat hati menjadi murni. Oleh Roh, orang percaya menjadi bagian dari sifat/hakikat Ilahi. Kristus telah memberikan Roh-Nya sebagai kuasa Ilahi untuk mengalahkan semua warisan dan kecenderungan yang dibudidayakan ke arah kejahatan, dan untuk menanamkan karakter-Nya Sendiri dalam gereja.” (E.G. White, Review and Herald, 19 Mei 1904, par. 3).

Roh Kristus adalah suatu kuasa Ilahi. Roh adalah ‘karakter-Nya Sendiri” atau hidup-Nya sendiri, bukan seorang yang berbeda dari Diri-Nya. Apakah satu-satunya kuasa yang dapat menghancurkan kejahatan dalam hati kita?

“Kondisi kita dalam dosa telah menjadi gaib, dan kuasa yang dapat memulihkan kita haruslah super gaib, jika tidak, tak akan ada nilainya. Hanya ada satu kuasa yang dapat menghancurkan kejahatan dari hati manusia, dan itu adalah kuasa Allah dalam Kristus Yesus.” (E. G. White, Testimonies Vol. 8, Hal. 291).

“Kuasa Ilahi yang dijanjikan oleh Penebus dunia untuk dikirim adalah kehadiran dan kuasa Allah.” (E.G. White, Signs of the Times, 23 November 1891).

Oleh sebab itu, kuasa Allah yang ada dalam Kristus, hadir di dalam pribadi ketiga. Kristuslah dan kuasa-Nya yang hadir sebagai pribadi ketiga dari ke-Allahan. Jadi bukan pribadi lain yang berbeda yang ada dalam ke-Allahan, tidak! Tapi pribadi ketiga dari (dan bukan dalam) ke-Allahan yang hadir di hati kita.

“Haruslah ada kuasa yang bekerja dari dalam, (dan) suatu kehidupan baru dari atas, sebelum manusia dapat diubahkan dari dosa kepada kekudusan. Kuasa itu adalah Kristus. Karunia-Nya saja yang dapat memberi hidup pada keadaan jiwa yang tak bernyawa, dan menariknya kepada Allah, pada kekudusan.” (E.G. White, Steps to Christ, Hal. 18).

“Kristus menyatakan bahwa setelah kenaikan-Nya, Dia akan mengirimkan atas gereja-Nya, sebagai pemberian tertinggi, Penolong, yang akan menggantikan-Nya. Penolong ini adalah Roh Kudus, --jiwa dari hidup-Nya, keampuhan gereja-Nya, terang dan hidup dunia. Oleh Roh-Nya, Kristus mengirimkan pengaruh perdamaian dan kuasa yang mengangkut dosa.” (E.G. White, Review and Herald, May 19, 1904 par. 1).

Perhatikan bagaimana dengan jelas beliau mengatakan bahwa hidup Kristus adalah kuasa yang menolong kita untuk menolak godaan. Hidup Kristus adalah Roh-Nya (bukan pribadi berbeda dari-Nya!). Inilah Penolong itu, yaitu Roh Kudus, dan inilah yang disebut “pribadi ketiga dari ke-Allahan.”

Satu-satunya pertahanan melawan kejahatan adalah berdiamnya Kristus dalam hati oleh iman dalam kekudusan-Nya.” (E.G. White, The Desire of Ages, Hal. 324).

“Tidak hingga hidup Kristus menjadi kuasa yang menghidupkan dalam kehidupan kita, (barulah) kita dapat menolak godaan-godaan yang menyerang kita dari dalam dan dari luar.” (E.G. White, The Ministry of Helaing, Hal. 130). 

Kehidupan Kristus ini adalah sesuatu yang kudus, tak bernoda, hidup yang tak bercacat. Sebab hidup adalah roh (Yohanes 6:63), maka kehidupan kudus Kristus ini adalah Roh Kudus-Nya!

“Kristus adalah sumber dari setiap dorongan yang benar. Dia adalah satu-satunya yang dapat menimbulkan permusuhan melawan dosa di hati yang alamiah (buruk). Dia adalah sumber kuasa kita, jika kita ingin diselamatkan. Tidak ada jiwa yang bertobat tanpa karunia Kristus. Orang berdosa dapat berdoa dan dapat mengetahui bagaimana caranya untuk bertobat. Allah menunjukkan Kristus kepada orang berdosa, dan ketika dia memandang kemurnian Anak Allah, dia tidak lagi bebal akan karakter dosa. Oleh iman dalam pekerjaan dan kuasa Kristus, permusuhan melawan dosa dan Setan dibuat dalam hatinya.” (E.G. White, Review and Herald, 1 April 1890, par. 5).

“Roh Kudus, yang berasal dari Anak lahir Allah yang tunggal, mengikat agen manusia, tubuh, jiwa, dan roh, kepada kesempurnaan, sifat/hakikat Ilahi-manusia Kristus.” (E.W. White, Review and Herald, 5 April 1905 par. 16).

Dari Alkitab, kita sudah mengetahui fakta ini (Kisah 3:26). Oleh sebab itu, jika kuasa kejahatan hanya dapat dilawan oleh kuasa Allah dalam pribadi ketiga dari ke-Allahan, yaitu Roh Kudus, dan adalah Yesus satu-satunya yang dapat membuat masing-masing kita berbalik dari kejahatan kita, maka jelaslah kesimpulannya bahwa Yesus menolong kita dalam pertarungan dengan memberikan kita hidup-Nya Sendiri, Roh Kudus-Nya Sendiri (dan bukan makhluk lain yang berbeda dari diri-Nya). Inilah yang dimaksud dengan “pribadi ketiga dari ke-Allahan”.