Bab 4: Pembesar-Pembesar Surgawi

Pembesar-Pembesar Kekal Surgawi

Bab 4 dari Buku berjudul: “Putting The Pieces Together” oleh Pdt. Nader Mansour
www.revelation1412.org

Diterjemahkan oleh Yolanda Kalalo-Lawton

Kalimat yang tampak bermasalah (dalam bahasa asli): “The eternal heavenly dignitaries--God, and Christ, and the Holy Spirit--arming them [the disciples] with more than mortal energy, . . . would advance with them to the work and convince the world of sin.--Manuscript 145, 1901.” {Evangelism, p. 616}

Terjemahan: “Pembesar-Pembesar kekal surgawi – Allah, dan Kristus, dan Roh Kudus—mengarahkan mereka (para murid-Nya) dengan suatu (kuasa) yang melebihi kuasa yang fana, … yang akan menuntun mereka dalam pekerjaannya untuk meyakinkan dunia yang berdosa ini. – Manuskrip 145, 1901.” (Evangelism, hal. 616)

Jawaban Singkat:  Kalimat ini sendiri hanya menyebutkan Pembesar-Pembesar Surgawi tapi tidak menerangkan hubungan antara mereka satu dengan yang lain. Memaksakan arti bahwa ‘Pembesar-Pembesar’ harus diartikan dengan ‘Trinitas’ yaitu 3 makhluk Allah yang sama derajat, sama kekal, adalah melangkah terlalu jauh dari cakupan yang dimaksud dalam kalimat ini.  Yang kita pelajari dari kalimat ini adalah, Allah, Kristus dan Roh Kudus adalah Pembesar-Pembesar Surgawi.

Jawaban Terperinci: Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah Pembesar-Pembesar surga. Tidak dapat diragukan bahwa memang ada tiga pribadi.  Kami tidak menyangkal bahwa Roh Kudus itu ada! Tapi, apakah itu berarti bahwa mereka adalah tiga makhluk Allah? Apakah penulisan ketiga Pembesar tersebut harus berarti bahwa mereka semua adalah Makhluk Ilahi? Apakah kita diberi petunjuk dalam tulisan yang lain tentang hubungan ketiga Pembesar ini?

Kalimat ini tidak mengatakan pada kita apa hubungan antara Bapa, Anak dan Roh.  Tidak mengatakan bahwa mereka adalah tiga makhluk.  Tidak mengatakan bahwa Roh itu adalah makhluk yang sama derajat dengan Allah dan Kristus.  Tidak mengatakan bahwa Yesus tidak dilahirkan dari Bapa-Nya.  Kalimat ini hanya sekedar mengatakan bahwa ada tiga Pembesar, yang kami semua juga percaya.  Marilah kita membiarkan Ny. White menerangkan pada kita apa hubungan antara ketiga Pembesar tersebut, yang menjadi pokok persoalan di sini.  Kita akan menggunakan kunci yang terpercaya.

Apakah hubungan antara Allah dan Kristus?

“Kitab Suci secara jelas menyatakan hubungan antara Allah dan Kristus, dan menunjukkan secara jelas kepribadian dan individualitas masing-masing.  (mengutip Ibrani 1:1-5) Allah adalah Bapa dari Kristus; Kristus adalah Anak dari Allah.  Kepada Kristus telah diberikan suatu kedudukan yang tinggi.  Dia telah dijadikan sederajat dengan Bapa.  Semua persidangan Allah terbuka pada Anak-Nya.”  (E.G. White, Testimonies Vol. 8, Hal. 268)

“Kristus adalah Anak dari Allah; Dia telah menjadi satu dengan-Nya sebelum malaikat-malaikat dipanggil menjadi ada.” (E.G. White, Para Nabi dan Bapa, Hal. 38).

“Suatu persembahan yang lengkap telah dibuat: karena “Allah sangat mengasihi dunia ini, sehingga Dia mengaruniakan anak lahir-Nya yang tunggal.” –bukan seorang anak melalui ciptaan, seperti malaikat-malaikat, bukan seorang anak melalui adopsi seperti orang berdosa yang diampuni, tapi seorang anak yang dilahirkan dalam gambar wujud Pribadi Bapa, dan dalam seluruh kecemerlangan dari keagungan dan kemuliaan-Nya, seorang yang sama derajat dengan Allah dalam otoritas, martabat, dan kesempurnaan Ilahi.  Dalam Dia diam seluruh kepenuhan ke-Allahan secara badani.” (E.G. White, Signs of the Times, 30 Mei, 1895 par. 3)

Kristus adalah Anak sulung surga.  Perhatikan kutipan berikut:

“Dedikasi Anak sulung berasal dari zaman permulaan.  Allah telah berjanji untuk memberikan Anak sulung surga untuk menyelamatkan orang berdosa.” (E.G. White, Kerinduan Segala Zaman, hal. 51).

Oleh sebab itu, patutlah kami berkesimpulan bahwa Kristus adalah Anak sulung surga.  Dia pertama kali dilahirkan di surga, kemudian Dia datang ke dunia untuk ‘dilahirkan kembali’!  Ketika Dia dilahirkan di dunia, Dia menjadi Anak Allah ‘dalam pengertian yang baru’.  Perhatikan kutipan-kutipan berikut:

“Dalam kemanusiaan-Nya Dia mengambil bagian dalam hakikat Ilahi.  Dalam inkarnasi-Nya, Dia memperoleh gelar dalam pengertian yang baru (yaitu) Anak Allah.  Kata malaikat kepada Maria, “Kuasa dari yang Maha tinggi akan menaungi engkau: oleh sebab itu anak suci yang akan lahir dari-mu akan disebut juga Anak Allah” (Lukas 1:35).  Sementara (Dia) adalah Anak manusia, Dia menjadi Anak Allah dalam pegertian yang baru.  Dengan demikian Dia berdiri di atas dunia—(sebagai) Anak Allah, tapi bersekutu dengan umat manusia melalui kelahiran.” (E.G. White, Selected Message Buku 1, Hal. 226, 227).

“Sementara (Dia) berada di atas dunia, Anak Allah itu adalah Anak manusia; tapi ada saat-saat dimana ke-Ilahian-Nya melintas.” (E.G. White, Testimonies Vol. 8, hal. 202).

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, kita dapati dengan jelas bahwa Kristus telah dilahirkan oleh Bapa di surga (jauh sebelum inkarnasi terjadi). Begitu mudah untuk mengerti hal ini bila kita membiarkan Ny. White menerangkan tulisan-nya sendiri. Segala sesuatu akan menjadi lebih jelas lagi saat kita melanjutkan pelajaran ini.

Apa hubungan Roh dengan Bapa dan Anak? Marilah kita kembali menggunakan kunci yang sama.

“Kristus menyatakan bahwa setelah kenaikan-Nya, Dia akan mengirimkan kepada gereja, sebagai pemberian istimewa-Nya, Penolong, yang akan menggantikan-Nya. Penolong itu adalah Roh Kudus, --jiwa dari hidup-Nya, (kuasa) kemanjuran untuk gereja-Nya, terang dan hidup dunia.  Melalui Roh-Nya, Kristus mengirimkan suatu pengaruh perdamaian dan kuasa kelepasan (dari) dosa.” (E.G. White, Review and Herald, 19 Mei, 1904 par. 1)

“Kristus memberikan kepada mereka (para murid-Nya) hidup dari hidup-Nya. Roh Kudus mengerahkan kekuatan-kekuatan-Nya yang tertinggi untuk bekerja dalam pikiran dan hati.”  (E. G. White, Review and Herald, 5 Januari 1911 par. 6)

“Pemberian Roh adalah pemberian hidup Kristus.” (E. G. White, Kerinduan Segala Zaman, Hal. 805).

“Kristus memberikan mereka (para murid-Nya) nafas dari roh-Nya Sendiri, hidup dari hidup-Nya Sendiri. Roh Kudus mengerahkan kekuatan-kekuatan tertinggi-Nya untuk bekerja dalam pikiran dan hati.” (E. G. White, Kerinduan Segala Zaman, hal. 827).

Kita baru saja membaca dengan jelas bahwa Roh adalah hidup Kristus, ke-Ilahian dari karakter-Nya.

“Sebagaimana Bapa telah mengirim Aku,” kata-Nya, “dan Aku hidup dalam Bapa; barangsiapa yang memakan daging-Ku, dia akan hidup dalam Aku… Roh-lah yang memberi hidup; daging sama sekali tidak ada untungnya; kata-kata yang Aku ucapkan kepada-mu, adalah roh, dan hidup.” Di sini Kristus tidak mengacu kepada doktrin-Nya, tapi kepada pribadi-Nya, ke-Ilahian dari karakter-Nya.” (E.G. White, Review and Herald, 5 April 1906, par. 12).

Kita telah pelajari sebelumnya bahwa “melalui Anak tercinta, hidup Bapa mengalir keluar untuk semua”.  Oleh sebab itu roh (hidup) yang dimiliki Kristus adalah juga sama dengan roh (hidup) yang dimiliki Bapa; “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.” Yohanes 5:26.

Jelas dikatakan pada kita bahwa Bapa dan Anak berbagi hidup (roh) yang sama, yaitu  roh (hidup) Bapa dan roh (hidup) Anak.

“Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roma 8:9-11 (lihat juga Galatia 11; Efesus 3:14-17).

Oleh sebab itu, jika kita memiliki hidup Bapa dan Anak, kita memiliki kesatuan dan persekutuan dengan mereka berdua, bukan dengan pribadi yang lain:

“Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” 1 Yohanes 1:3 (lihat juga 2 Yohanes 9).

“Melalui Roh Bapa dan Anak akan datang dan menjadikan engkau tempat kediaman mereka.” (E.G. White, Bible Echo dan Signs of the Times, 15 Januari, 1893 par. 8).

“Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Yohanes 14:23.

“Orang berdosa kemudian berdiri di hadapan Allah sebagai orang benar; dia diterima oleh Surga, dan melalui Roh memiliki persekutuan dengan Bapa dan Anak.” (E.G. White, Selelcted Message, Buku 3, hal. 191).

Kita harus bersyukur kepada Bapa dan Anak oleh sebab pemberian yang luar biasa ini. Mereka membagi hidup mereka dengan kita! (2 Petrus 1:4).  Inilah arti dari “Pembesar-Pembesar Kekal Surgawi”.