Tanggapan atas Surat Edaran Konferens DKI

Tanggapan Atas
Surat Edaran Konferens DKI Jakarta & Sekitarnya

Oleh Yolanda Kalalo-Lawton

Menanggapi Surat Edaran Konferens DKI Jakarta dan Sekitarnya, dan surat-surat serupa yang lain baik yang belum dan sudah dikeluarkan, dalam pandangan saya, para pemimpin Gereja MAHK tercinta tidak mengerti apa yang  kami percaya.

GMAHK.jpg

Untuk itu saya merasa perlu menjelaskan posisi saya, mewakili pergerakan “Satu Allah Yang Benar” yang dimaksudkan dalam Surat Edaran ini.

Saya percaya 100% bahwa Roh Kudus itu adalah Oknum ke-Allahan. 

Saya percaya bahwa Roh Kudus adalah “Oknum Ketiga dari ke-Allahan,” satu dari “Trio Surgawi,” seperti ajaran Roh Nubuat. (lihat artikel ini untuk info lanjut)

Saya percaya Roh Kudus itu berasal dari Bapa (Yohanes 15:26) juga berasal dari Kristus,

Roh Kudus, yang berasal dari Anak Tunggal yang lahir dari Allah, yang mengikat agen manusia, tubuh, jiwa, dan roh, pada kesempurnaan hakikat Ilahi-manusia Kristus.”  (Ny. White, RH 5 April 1906, par. 16).

Saya percaya Alkitab mengajarkan bahwa Roh itu adalah wakil dari Bapa dan Anak:

“Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Yohanes 14:23.

Saya percaya Roh Kudus adalah pribadi Kristus yang Omnipresence (hadir di mana-mana) yang disebut PENOLONG.  5 kali  kata Gerika “Parakletos” tertulis dalam buku Yohanes, 4 kali  diterjemahkan sebagai “Penolong” dan 1 kali diterjemahkan sebagai “Pengantara” yang berarti “Penolong” dimana jelas dikatakan bahwa penolong/pengantara itu adalah YESUS KRISTUS YANG ADIL/BENAR. Hanya ada satu pengantara (1Timotius 2:5) yaitu Kristus sendiri.

“Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara (Parakletos) pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.” 1 Yohanes 2:1

“Tidak penting bagi kamu untuk mengetahui dan mampu mendefinisikan apa Roh Kudus itu. Kristus mengatakan pada kita bahwa Roh Kudus adalah Penolong, dan Penolong adalah Roh Kudus, “Roh Kebenaran, yang akan dikirim oleh Bapa dalam nama-Ku.” “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yohanes 14:16,17). Ini mengacu pada KEHADIRAN DI MANA-MANA (OMNIPRESENCE) dari ROH KRISTUS, yang disebut PENOLONG.” (Ny. White, 14 MR, Hal. 179.2).

Kristus haruslah dikenal oleh nama yang diberkati dari Penolong. “Penolong,” kata Kristus kepada murid-murid-Nya, “yaitu Roh Kudus, yang akan dikirim Bapa dalam nama-Ku, Dia akan mengajar engkau segala sesuatu, dan membawa segala sesuatu dalam ingatanmu, apa saja yang telah Aku katakana padamu, Damai Aku tinggalkan bersamamu, damai-Ku Aku berikan padamu: tidak seperti yang diberikan dunia, apa yang Aku berikan padamu.  Janganlah diberi hatimu terharu, janganlah juga takut.” (Ny. White, Ms7-1902.10).

“Kita perlu Roh Kudus, yaitu Yesus Kristus. Jika kita bersatu dengan Allah, kita akan mendapat kekuatan dan karunia dan efisiensi .” (Ny. White, Surat 66 – 1894.18).

Roh Kudus adalah Allah, karena Dia adalah Roh Allah. Roh Kudus adalah Seorang Pribadi karena Dia adalah kehadiran Pribadi Allah. Roh Kudus adalah  Pribadi ketiga sebab Dia adalah perpaduan dua hakikat, yaitu hakikat Ilahi Bapa dan kemanusiaan Kristus yang menang yang tidak pernah ada sebelum kenaikan Kristus. Tapi Roh Kudus bukan Pribadi lain yang berbeda dengan Bapa dan Kristus karena itu tidak diajarkan di manapun baik dalam Alkitab maupun Roh Nubuat!

Identitas Roh Kudus sudah jelas-jelas ditulis dalam Alkitab dan Roh Nubuat, tidak perlu di-interpretasikan lagi. (lihat artikel ini).


ROH KUDUS

(Dari buku “Membuka Kedok” Bab. 7 oleh Pdt. Imad Awde)

Jika kita harus memilih seorang figur terkemuka dalam Perjanjian Baru (PB) selain Yesus Kristus, pasti kita memilih Roh Kudus.  Banyak tulisan telah ditulis tentang Roh Kudus di dalam maupun di luar Kitab Suci. Jaman Perjanjian Baru, khususnya sejak Pantekosta, disebut dengan “Jaman Roh Kudus.”  Buku Kisah Para Rasul oleh para penulis disebut sebagai “Kisah Roh Kudus.”

Roh Kudus diperkenalkan dalam PB sebagai seorang pribadi/oknum yang sama dengan Bapa dan Anak.  Banyak ayat dalam Kitab Suci setuju dengan kesimpulan ini.  Alkitab menulis bahwa Roh Kudus:

·       Menginspirasikan para penulis Alkitab (2 Petrus 1:21)

·       Mengisi hidup Kristus (Lukas 4:18)

·       Menyatakan dosa dari manusia (Yohanes 16:8)

·       Menyaksikan Kristus (Yohanes 15:26)

·       Mengarahkan dan menasihatkan (2 Samuel 23:2, Lukas 4:1, Kisah 13:2)

·       Bisa didukakan (Efesus 4:30)

·       Bisa didustakan (Kisah 5:3)

Seperti yang dapat anda lihat, Alkitab tidak mengatakan bahwa Roh Kudus hanya sekedar tenaga atau pengaruh yang dikirim oleh Allah.  Mempercayai hal ini sama saja dengan menentang tulisan Kitab Suci.  Dan merupakan suatu kejahatan terburuk bila kita mengatakan bahwa Roh Kudus itu tidak ada.  Saya belum pernah bertemu dengan seseorang yang percaya pada kesalahan-kesalahan ini, tapi saya telah mendengar ada juga yang mempercayainya. Sebab itu, saya ingin memusatkan pembahasan saya pada Roh Kudus.

Alkitab mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah seorang pribadi.  Namun, oleh karena ayat-ayat yang sama juga, banyak yang melangkah teralu jauh dalam kepercayaannya, mereka menyimpulkan bahwa Roh Kudus adalah pribadi yang berbeda dari Bapa dan Anak.  Bagi mereka, berbeda berarti Roh Kudus bukan pribadi Bapa bukan pula pribadi Anak.

Umumnya, pengertian ini diajarkan oleh doktrin Trinitas. Perhatikan contoh-contoh berikut:

Setelah mengutip bagian dari Kredo Athanasius, para penulis artikel berjudul “Understanding the Trinity (Pengertian Trinitas)” menulis:

Kalimat-kalimat ini menyatakan pola pemahaman ortodoks Trinitas.  Dengan jelas doktrin ini mewajibkan bahwa bukan saja Allah terdiri dari tiga Pribadi, tapi juga setiap pernyataan berikut adalah benar:

(1) Tepatnya, ada satu Allah.

(2) Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah

(3) Bapa bukan Anak, dan Roh Kudus bukan Bapa atau Anak.

Tapi ketiga pernyataan ini kelihatan ganjil.  Yang pertama menuntut bahwa doktrin ini harus diartikan dalam konteks monoteisme, pandangan dimana hanya ada satu Allah. Yang kedua menuntut bahwa setiap Pribadi adalah Allah, sedangkan yang ketiga mengatakan pada kita bahwa ada tiga Pribadi.  Dengan demikian, nampaknya doktrin ini mengajarkan kedua-duanya; ada dan pasti tidak ada satu Allah.  (Understanding the Trinity oleh Jeffrey E. Brower dan Michael C. Rea, Universitas Notre dame, Hal. 2.)

(https://www3.nd.edu/~mrea/papers/Understanding%20the%20Trinity.pdf)

Pengarang lain dari denominasi Protestan menulis sebagai berikut:

“Namun konsep “Trinitas” telah dibuktikan sebagai cara yang paling memadai untuk menegaskan bukti-bukti Alkitabiah tentang Allah:

1.     Ada satu Allah.

2.     Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah. 

3.     Semua sama derajat dan tidak saling tergantung.

4.     Bapa bukan Anak; Anak bukan Roh: Roh bukan Bapa, dst. 

5.     Bapa, Anak & Roh semua adalah makhluk pribadi bukan kekuatan-kekuatan di luar pribadi.

6.     Yesus menjadi keduanya yaitu manusia dan Allah.

7.     Allah dapat dikenal melalui ketiga mahluk ini.

Pelajaran Alkitab untuk Orang Muda (Bible Studies for Youth) diedit oleh Pendeta Damien Rice untuk Departemen Pemuda GMHK (NSW Utara) Ltd.   

http://aucyouth.adventist.org.au/uploaded_assets/361517

 Berikut adalah bagan konsep Trinitas:

Dari buku "My Catholic Faith "

Dari buku "My Catholic Faith"

Dari buku "The New Pictorial Aid for Bible Study" Hal 75, Gereja MAHK

Dari buku "The New Pictorial Aid for Bible Study" Hal 75, Gereja MAHK

Terjemahan konsep Trinitas

Terjemahan konsep Trinitas

Saya ingin mengulang kembali apa yang saya katakan sebelumnya – Kita telah melangkah terlalu jauh tanpa dasar bila kita percaya bahwa Roh Kudus adalah Pribadi yang berbeda dari Bapa dan Anak.  Memang benar bahwa Roh Kudus adalah seorang pribadi seperti Bapa dan Anak, tapi bukan berarti bahwa Dia adalah pribadi berbeda dari Bapa dan Anak.  Biarkan saya menjelaskannya:

Hal pertama yang harus saya jelaskan kepada pembaca adalah, tidak seorang manusiapun yang dapat mengerti hakikat dari Roh.  Sebab itu, pelajaran ini tidak akan membahas mengenai hakikat atau apa Roh Kudus itu tetapi kita akan mempelajari identitas atau siapa Roh Kudus itu.

Apabila kita kembali pada asal mula manusia, kita membaca kata-kata berikut:

“Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1:26-27.

Kita diciptakan dalam gambar dan rupa Allah.  Tapi kita bukan gambar wujud Allah.  Hanya satu Mahluk, yaitu Yesus, yang disebut sebagai “gambar wujud” Allah (Ibrani 1:3; Kolose 1:15, 16; 2 Korintus 4:4). Kita telah diciptakan dalam gambar-Nya; supaya dengan melihat gambar kita sendiri kita dapat belajar tentang Allah. (Jika anda berpikir bahwa kata “kita” di sini berarti Trinitas, silahkan lihat Pertanyaan 2 pada Bab 15 dimana saya membahas hal ini lebih lanjut).

Meneruskan pembacaan kita tentang catatan penciptaan, kita dapati bahwa manusia dibentuk dari dua unsur, yaitu tubuh dan roh:

“Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Kejadian 2:7.

Tubuh Manusia + Roh Manusia = Mahluk Manusia yang Hidup

Roh saya bukan pribadi yang berbeda dengan saya.  Roh saya adalah siapa saya di dalam diri saya sendiri.  Contohnya, ketika Nebukadnezar gelisah dengan sebuah mimpi, Alkitab berkata:

“Pada tahun yang kedua pemerintahan Nebukadnezar bermimpilah Nebukadnezar; karena itu rohnya gelisah dan ia tidak dapat tidur.” Daniel 2:1 (diterjemahkan dari KJV).

Setelah membaca kata “rohnya” dalam ayat ini, tidak ada seorangpun yang akan mengartikan bahwa maksud kata tersebut mengacu pada pribadi lain yang disebut “rohnya.”  Secara langsung kita mengerti bahwa “rohnya” mengacu pada diri Nebukadnezar sendiri.  Raja Nebukadnezar sendirilah yang gelisah; ia sendirilah yang tidak bisa tidur dan bukan pribadi lain.

Perlu diperhatikan, kita diciptakan dalam gambar dan rupa Allah. Jika roh saya mengacu pada diri saya, dan roh raja Nebukadnezar mengacu pada dirinya sendiri, bukankah kita harus mengaplikasi prinsip yang sama kepada Dia yang menurut gambar-Nya kita telah diciptakan? Alkitab berkata:

“Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.” 1 Korintus 2:11.

Ayat di atas menyetarakan hubungan antara manusia dengan rohnya dan hubungan antara Allah dengan Roh-Nya. Ayat ini juga menekankan suatu perbedaan penting yaitu, sementara roh manusia terdapat “dalam dirinya,” Roh Allah tidak terbatas di dalam diri-Nya saja.  (Untuk informasi lanjut akan bentuk rupa Allah, lihat Pelajaran 6 dalam Pelajaran Alkitab di halaman belakang buku ini.)

Kembali pada pertanyaan sebelumnya, dapatkah kita berkata bahwa Roh Allah mengacu pada diri Allah Sendiri?  Apakah prinsip logika yang berlaku bagi manusia boleh diaplikasikan pada Allah dan Anak-Nya?  Marilah kita jelajahi apa yang ditulis Alkitab:

“Tetapi Yesus segera mengetahui dalam Roh-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hati-mu?” Markus 2:8 (diterjemahkan dari KJV).

Anda mungkin berpikir betapa lugunya saya menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut, tapi saya harus melontarkannya agar anda dapat mengerti poin yang saya maksud.  Menurut ayat di atas, siapakah yang “mengetahui”? Apakah Yesus sendiri atau pribadi lain yang disebut “roh/hati-Nya”?  Saya yakin jawaban anda akan sama seperti jawaban saya; tentu saja, roh Yesus Sendiri.  Dia mengetahui dalam roh-Nya, dalam hati/pikiran-Nya, atau dalam diri-Nya.  Berikut adalah contoh lain:

“Maka mengeluhlah Ia dalam roh-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” Markus 8:12 (diterjemahkan dari KJV).

Siapakah yang mengeluh? Apakah Yesus sendiri atau pribadi lain yang disebut “roh-Nya”?  Dapatkah anda mengerti maksud saya?  Begitu sederhana, begitu luguh! Tapi hal ini sangat penting, seperti yang akan anda pelajari selanjutnya.  Berikut contoh terakhir:

“Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan roh-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan roh-Nya.” Lukas 23:46 (diterjemahkan dari KJV).

Siapakah yang Yesus serahkan ke tangan Bapa-Nya? Apakah Dia menyerahkan Diri-Nya, Hidup-Nya, atau orang lain yang disebut “roh-Ku”?

Sekarang, saya pastikan bahwa anda akan berkata, “Oke, kita mengerti maksudmu, tapi apa buktinya?”

Perhatikan bukti-bukti berikut. Ketika Alkitab berkata: “roh-Nya,” mengacu pada Yesus, kita seharusnya mengerti bahwa maksud Alkitab akan roh-Nya adalah roh dari Yesus Sendiri, bukan oknum lain yang disebut “Allah Roh.”  Ketika Yesus berkata, “roh/nyawa-Ku,” kita seharusnya mengerti bahwa Dia mengacu pada roh/nyawa diri-Nya sendiri, bukan kepada pribadi lain yang disebut “Allah Roh.” Pengertian ini adalah pengertian yang dasar dan sederhana, tetapi para penganut doktrin Trinitas tidak menyadarinya.

Berikut adalah alasan mengapa saya berkata demikian. Silahkan renungkan ayat ini:

“Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!” Galatia 4:6.

Pembaca yang baik, intelek dan kejujuran rohani membutuhkan konsistensi, dan konsistensi menuntut cara tertentu dalam mengartikan ayat tersebut.  Kita melihat sebelumnya bahwa, ketika Alkitab berkata; “roh-Nya” dan “roh-Ku” berarti mengacu kepada diri Yesus Sendiri yaitu pada nyawa-Nya dan pribadi-Nya, bukan mengacu pada nyawa dan pribadi orang lain yang berbeda dengan-Nya.

Kita memiliki “roh” yang sama.  Paulus berkata pada jemaat Galatia, “Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

Ketika Paulus berkata: “roh Anak-Nya,” atau “Roh Yesus,” apakah yang ia maksudkan?  Apakah ia mengacu pada hidup dan pribadi Yesus sendiri atau pribadi lain yang disebut “Allah Roh?”

Anda tidak berlaku jujur pada diri sendiri dan pada Allah kecuali anda mengartikan tulisan Alkitab sesuai dengan apa yang sudah jelas tertulis.  Konsistensi, kejujuran, tulisan Kitab Suci dan logika mengarahkan kita kepada satu cara pengetian saja yaitu, roh Yesus adalah nyawa dan pribadi Yesus Kristus Sendiri, bukan pribadi yang lain.

Setelah mendengar pembahasan saya ini, suatu kali seorang saudara tetap bersikeras bahwa Roh Yesus berbeda dengan Roh Kudus.  Inilah cara satu-satunya saudara tersebut mengerti apa yang Kitab Suci tuliskan, dan karena inilah yang diajarkan oleh gerejanya, yaitu ajaran Trinitas.  Untuk menjawab perdebatannya, saya memintanya membandingkan ayat-ayat berikut:

“Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu.” 1 Petrus 1:10,11.

“Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” 2 Petrus 1:20,21.

Kedua ayat tersebut ditulis oleh rasul yang sama dan mengacu pada pribadi yang sama.  Keduanya menyatakan tentang nabi-nabi dahulu kala yang menubuatkan tentang hal-hal yang akan datang.  Dalam suratnya yang pertama, Petrus berkata bahwa “Roh Kristus” lah yang ada dalam nabi-nabi tersebut dan mengilhamkan mereka untuk menulis nubuatan, sementara dalam suratnya yang kedua, ia berkata bahwa roh tersebut adalah “Roh Kudus.”

Roh Kudus = Roh Kristus

Kembali pada pokok pembahasan kita, Roh Kudus dinyatakan dalam Alkitab sebagai seorang pribadi, yaitu pribadi Kristus, tapi bukan pribadi lain yang disebut Allah Roh Kudus.  Istilah ini tidak tertulis dalam Kitab Suci. Saya akan memaparkan hal ini lebih lanjut dalam bab berikut.

Kadang dalam kesempatan lain, Roh Kudus dinyatakan sebagai Roh Allah atau Roh Bapa.  Sekali lagi, apakah ini mengacu pada nyawa dan Pribadi Allah Bapa atau mengacu pada pribadi lain yang disebut Allah Roh Kudus?  Perhatikan bagaimana para penulis Alkitab menjajarkan Roh Kudus dengan Roh Bapa:

“Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus.” Markus 13:11.

Matius mencatat kata-kata yang sama sebagai berikut:

“Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” Matius 10:19,20.

Roh Kudus = Roh Bapa

Roh Kudus adalah pribadi Bapa Sendiri. Bukan pribadi lain yang berbeda dengan-Nya. Renungkan ayat-ayat berikut:

“Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Lukas 1:35 (lihat juga Matius 1:18,20)

Alkitab jelas berkata “Roh Kudus akan turun” ke atas Mariam dan“Ia mengandung anak dari Roh Kudus.” Jadi, “Anak yang akan dilahirkannya berasal dari Roh Kudus.”

Jika para penganut Trinitas benar bahwa “…Roh Kudus bukanlah Bapa,” seperti yang tertulis dalam Pelajaran Alkitab untuk Orang Muda dan dalam kredo-kredo mereka, tolong jawab pertanyaan saya, siapakah Bapa dari Yesus menurut ayat tersebut di atas?

Mohon dicamkan ayat-ayat berikut:

“Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Kejadian 1:2.

“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya.” Matius 3:16.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30

Jika anda belum pernah mendengar doktrin Trinitas dan anda sedang membaca ayat-ayat ini untuk pertama kalinya, bagaimana anda memahami kata-kata “Roh Allah?”  Apakah anda mengerti bahwa yang dimaksud ayat-ayat tersebut adalah “Roh yang dimiliki Allah” ataukah “Pribadi ketiga dalam Trinitas yang disebut Allah Roh”?  Jawablah dengan jujur dalam hati anda.

Prinsip yang sama berlaku pada istilah “Roh Kudus.”  Istilah ini bukan sebuah nama panggilan, tetapi sebuah uraian yang mengacu kepada “Roh” yang kudus.  Alkitab menggunakan uraian berbeda-beda untuk roh-roh yang berbeda.

“Jawabnya: Aku akan keluar dan menjadi roh dusta dalam mulut semua nabinya. Ia berfirman: Biarlah engkau membujuknya, dan engkau akan berhasil pula. Keluarlah dan perbuatlah demikian!” 2 Tawarikh 18:21.

“Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia ‘keluar dari padanya.’” Markus 1:26.

Sebagai kesimpulan dari apa yang kita sudah pelajari sampai di sini, Roh Kudus adalah seorang Pribadi, tapi menurut Alkitab Dia bukanlah pribadi yang lain dari Bapa dan Anak-Nya.  Kadang Roh Kudus disebut sebagai Roh Yesus Sendiri, dan pada kesempatan lain disebut Roh Bapa, namun, tidak pernah kita diberitahu bahwa Roh Kudus adalah seorang pribadi/mahluk yang berbeda dengan Bapa dan Anak, dan tidak pernah kita membaca istilah Allah Roh dalam Alkitab.

Seperti roh saya adalah siapa saya, siapa pribadi dan hidup saya, dan bukan pribadi lain; demikian juga Roh Allah adalah siapa Dia secara Pribadi, Dia Sendiri dan hidup-Nya sendiri, bukanlah pribadi lain yang berbeda dengan-Nya.  Ketika Alkitab mengatakan “Roh Kristus,” atau “Roh Bapa-mu” ini mengacu kepada Kristus atau Bapa Sendiri, bukan kepada pribadi lain yang disebut Allah Roh Kudus.

Dalam bab berikut, saya akan mengharmoniskan hal-hal yang merupakan sumber perdebatan, yaitu  “siapa pemilik Roh itu!"