Penciptaan

Penciptaan

Terjemahan bebas oleh Yolanda Kalalo-Lawton
www.agapekasih.org

 

Ketika Allah menciptakan bumi, ada gunung-gunung, lembah-lembah, dataran, dan di antaranya ada sungai-sungai dan danau. Bumi ini tidak polos, tapi pemandangan yang senada itu diselangi oleh lembah dan gunung-gunung yang tidak tinggi dan terjal seperti sekarang ini, tetapi tampak rapi dan indah bentuknya. Batu-batu besar tak terlihat karena terbaring di bawah permukaan tanah sebagai kerangka penopang bumi. Air selalu mengalir. Lembah-lembah, gunung-gunung dan dataran-dataran yang sangat indah dihiasi dengan tumbuh-tumbuhan, bunga-bunga dan pohon-pohon menjulang yang megah dan beragam, jauh lebih besar dan indah daripada pohon-pohon yang ada sekarang. Udaranya bersih dan sehat. Bumi kelihatan seperti istana yang megah. Para malaikat mengamati-amati dan senang akan pekerjaan Allah yang indah dan cantik itu.


Setelah bumi dan binatang-bintang di dalamnya diciptakan, Bapa dan Anak melanjutkan maksud mereka yang sudah direncanakan sebelum kejatuhan Setan, yaitu untuk menciptakan manusia sesuai dengan gambar mereka. Mereka bersama-sama telah menempa pekerjaan penciptaan bumi dan segala yang hidup di dalamnya. Dan saat itu, Allah berkata kepada Anak-Nya, “Marilah kita menjadikan manusia dalam rupa kita.” Saat Adam muncul dari tangan Pencipta-nya, dia tampak menjulang tinggi dalam bentuk seimbang dan indah. Tinggi-nya dua kali lipat lebih dari manusia-manusia yang hidup di bumi sekarang ini, dan sangat indah dan simetris. Fitur-fitur-nya sempurna dan tampan. Warna kulit-nya tidak putih, tidak pucat tapi agak kemerahan. Kepala-nya lebih tinggi sedikit di atas bahu-nya. Hawa juga begitu mulia—sempurna dalam bentuk dan sangat cantik.


Pasangan yang suci itu tidak memakai jubah buatan manusia. Mereka dipakaikan jubah sinar terang dan cemerlang, seperti yang dipakai oleh para malaikat. Selama mereka hidup dalam penurutan kepada Allah, lingkaran sinar menyelubungi mereka. Walau segala sesuatu yang diciptakan Allah berada dalam kondisi yang sempurna dan indah dan tampaknya tak ada lagi yang kurang yang telah diciptakan Allah demi kesenangan Adam dan Hawa, namun Dia masih juga menyatakan kasih yang agung-Nya kepada mereka dengan membuat suatu taman khusus untuk mereka. Sebagian waktu mereka diisi dengan melakukan pekerjaan menggembirakan dalam mengerjakan taman, dan sebagian waktu lain digunakan untuk menjamu malaikat-malaikat, mendengarkan instruksi mereka dan dengan gembira merenungkan-renungkannya. Pekerjaan mereka tidak melelahkan tapi menyenangkan juga menyegarkan. Taman yang indah itu menjadi rumah mereka, tempat tinggal khusus mereka.


Di taman itu, Tuhan menempatkan berbagai macam pohon buah-buahan untuk dimakan dan untuk keindahan, dan bunga-bunga yang indah yang memenuhi udara dengan keharumannya. Segala sesuatu tampak penuh selera dan diatur dengan megahnya. Di tengah taman itu berdiri pohon kehidupan, dimana kemegahannya melebihi pohon-pohon yang lain. Buahnya tampak seperti apel berwarna emas dan perak, yang memberi hidup kekal. Daun-daunnya mengandung zat-zat berkhaziat untuk pemulihan.


Begitu bahagianya pasangan suci itu di taman Eden. Kuasa yang tak dibatasi untuk mengontrol segala sesuatu yang hidup di bumi, dianugerahkan kepada mereka. Singa dan lembu yang jinak tampak bermain bersama-sama di sekitar mereka, atau tidur di kaki mereka. Beragam warna burung-burung berterbangan di antara bunga-bunga yang mengelilingi Adam dan Hawa, sementara nyanyian lembut yang indah mereka bergema di antara pepohonan dalam nada-nada pujian kepada Pencipta mereka.


Di tengah-tengah taman dekat dengan pohon kehidupan, berdiri pohon pengetahuan baik dan jahat. Tentang pohon itu, Tuhan mengatakan kepada orang tua pertama kita itu, untuk tidak memakannya, tidak boleh juga menyentuhnya, jangan sampai mereka mati. Dia berkata kepada mereka bahwa mereka dapat memakan dengan bebas semua buah dari setiap pohon dalam taman, kecuali yang satu itu; dan jika mereka memakannya, mereka pasti akan mati.


Catatan dari Penerjemah:

Tulisan ini diterjemahkan dari buku: Spiritual Gifts, Volume 3, Bab 1, oleh Ellen G. White.

Pena inspirasi ini menunjukkan dengan jelas hubungan pribadi antara Allah Bapa dengan Anak-Nya, sebagai kesaksian yang tak dapat dibantah bahwa Kristus sudah menempati kedudukan sebagai Anak Allah sebelum bumi diciptakan, bertentangan dengan doktrin Trinitas yang mengajarkan bahwa Kristus hanya mengambil kedudukan sebagai Anak Allah ketika Dia dilahirkan di Betlehem. Lihat juga: Bab 2: “Pencobaan dan Kejatuhan”, “Mengapa Dosa Diizinkan” dan “Buku Kerinduan Segala Zaman Ajarkan Trinitas?”. 

Yolanda Kalalo-Lawton
 
www.agapekasih.org
Juli 2022