Sabat Hari Ketujuh: Abad 1-4
/Sabat Hari Ketujuh: Abad 1-4
Oleh Yolanda Kalalo-Lawton
www.agapekasih.org
Yesus
“Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.” Lukas 4:16.
Ayat di atas adalah kesaksian Alkitab yang sebenarnya tentang kebiasaan Yesus sebagai seorang Yahudi, yaitu memelihara hukum hari Sabat. Kebiasaan yang sama ini juga adalah budaya Rasul Paulus yang tetap dia praktekkan setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus Kristus:
Para Pengikut Yesus
“Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat.” Lukas 23:56.
Rasul Paulus, Barnabas dan Bangsa Non-Yahudi
“Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci.” Kisah 17:2.
“Ketika Paulus dan Barnabas keluar, mereka diminta untuk berbicara tentang pokok itu pula pada hari Sabat berikutnya.” Kisah 13:42. “Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah.” Kisah 13:44. “Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di situ.” Kisah 16:13.
“Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka.” Kisah 18:3. Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah. Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani.” Kisah 18:2-4.
“Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.” Ibrani 4:9-11.
Ayat-ayat di atas memberi bukti bahwa para pengikut Kristus di abad pertama menyucikan hari Sabat Ketujuh sesuai ajaran Rasul Paulus, bukan hanya karena mereka adalah orang Yahudi, tetapi karena Yesus tidak pernah membatalkan hari Sabat dan menggantinya dengan hari lain. Para pengikut non-Yahudi juga turut menyucikan hari Sabat Ketujuh.
Dokumentasi Sejarah Tentang Hari Sabat Ketujuh
Abad Pertama
“Kata Yesus, ....kecuali kamu membuat Sabat suatu Sabat yang benar, kamu tidak akan melihat Bapa.” The Oxyrhynchus Papyri, Bag. 1, (Diedit oleh Bernard P. Grenfell, M.A dan Arthur S Hunt, M.A, Logion II, 4-11, Thn 200-250 M).
Philo dari Alexandria, Ahli Filsafat & Teologia (20 SM - 50M)
“Hari Ketujuh adalah penyelesaian dari penciptaan, “sebab itu adalah perayaan, bukan hanya untuk satu kota atau negara saja, tetapi untuk alam semesta, dan hal itu sendiri benar-benar pantas untuk disebut ‘umum’ sebab hari itu dimiliki oleh bangsa-bangsa dan merupakan hari kelahiran dunia.” Philo of Alexandria, Opera exegetica in libros Mosis (Exegetical Works on the Books of Moses), Tahun 20 SM – 50 M.
Flavius Josephus, Sejarawan Yahudi (37 - 100 M)
“Tidak ada kota orang Yunani, atau orang Barbar, atau bangsa apa pun, di mana kebiasaan kita beristirahat pada hari ketujuh belum didatangi!" M'Clatchie, "Catatan dan Pertanyaan tentang Tiongkok dan Jepang" (diedit oleh Dennys), Vol 4, No 7, 8, hlm.100.
Polycarp, Uskup Jemaat Smirna, Murid Yohanes (69 – 155 M)
“Pada hari persiapan, waktu makan malam, datanglah para pengejar dan penunggang kuda dan Polycarp terbunuh “pada hari Sabat yang agung pada jam delapan.” The Encyclical Epistle of the Church at Smyrna, The Martyrdom of Polycarp, Bishop of Smyrna, Verses 7.1 & 8.1 Charles H. Hoole’s 1885 translation.
“Dan pada hari Sabat berikutnya dia berkata: dengarlah nasihatku, anak-anak Allah yang terkasih.” Polycarp, Vita S. Polycarpi C5. XXIV.
Abad Kedua
Gereja Mula-Mula
“Adalah pasti bahwa Sabat kuno tetap ada dan dipelihara (bersama-sama dengan perayaan hari Tuhan) oleh orang-orang Kristen dari Gereja Timur, lebih dari tiga ratus tahun setelah kematian Juruselamat kita." - A Learned Treatise of the Sabbath, hal. 77.
Catatan: Yang dimaksud dengan "hari Tuhan" dalam kutipan di atas oleh penulisnya berarti hari Minggu, bukan Sabat yang benar sesuai ajaran Alkitab. Hal ini menunjukkan bahwa pemelihraan hari Minggu mulai diperkenalkan pada abad ini, segera setelah kematian para Rasul. Kutipan di atas mengkonfirmasi bahwa hari Sabat Ketujuh yang orisinil masih dipelihara oleh sebagian umat Kristen.
Theophilus, Uskup keenam Jemaat Antiokia (120 – 190 M)
“Dan pada hari keenam Allah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya, dan beristirahat pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang dibuat-Nya. Dan Allah memberkati hari ketujuh dan menguduskannya; karena di dalamnya Dia hentikan semua pekerjaan-Nya dimana Allah memulai menciptakan... selain itu, (mereka berbicara) mengenai hari ketujuh, yang diakui semua orang; tetapi umumnya dari mereka tidak tahu bahwa apa yang disebut “Sabat” di antara orang Ibrani, diterjemahkan “Tujuh” (ebdomas) dalam bahasa Yunani, suatu nama yang diadopsi oleh setiap bangsa, walau mereka tidak tahu alasan sebutan itu.” Theopilus, Bishop of Antioch (160-180 M), (To Autolycus, buku 2, Bab 11-12).
“Kita telah mempelajari hukum kudus; tetapi kita memiliki Dia sebagai pemberi hukum yang benar-benar Allah, yang mengajar kita untuk bertindak benar, dan menjadi saleh, dan untuk berbuat baik... Dari hukum yang agung dan menakjubkan ini, yang menuntun kepada semua kebenaran, sepuluh poin adalah seperti yang telah kita praktekkan...”(To Autolycus, buku 3, Bab 9).
Pseudo-Athanasius
“Kita berkumpul pada hari Sabtu, bukan karena kita dijangkiti oleh Yudaisme, tetapi hanya untuk menyembah Kristus Tuhan hari Sabat.” Pseudo-Athanasius menguraikan tentang Sabat. Primitive Christianity, Bab 7, Hal. 175, William Cave, 1676.
“Umat Kristen primitif memiliki penghormatan besar akan hari Sabat, dan menghabiskan hari itu dalam perbaktian dan khotbah. Dan tidak diragukan lagi tetapi mereka memperoleh praktek ini dari para Rasul Dialogues on the Lord's Day sendiri, seperti yang nampak dalam beberapa ayat kitab suci untuk tujuan itu.” “Dialogues on the Lord's Day” hal. 189. London: 1701, Oleh Dr. T.H. Morer (Seorang Pendeta Gereja Anglikan).
“...Sabat adalah ikatan yang kuat yang menyatukan mereka dengan kehidupan seluruh umat, dan dalam menguduskan hari Sabat mereka tidak hanya mengikuti teladan tetapi juga perintah Yesus.” Geschichte des Sonntags, hal.13, 14.
“Umat Kristen primitif memang memelihara hari Sabat orang Yahudi;... oleh karena itu umat Kristen, untuk waktu yang lama bersama-sama, memelihara kebaktian mereka pada hari Sabat, di mana beberapa bagian dari hukum dibacakan: dan ini berlanjut sampai masa Dewan Laodikia.” "The Whole Works" of Jeremy Taylor, Vol. IX, hal. 416 (Edisi R. Heber's, Vol XII, hal. 416).
“Orang-orang Kristen non-Yahudi juga memelihara hari Sabat.” "Church History" oleh Gieseler, Vol.1, bab 2, par. 30, 93.
“Dari zaman para rasul sampai Dewan Laodikia, yaitu sekitar tahun 364, pemeliharaan kudus akan Sabat orang Yahudi terus berlanjut, seperti yang dapat dibuktikan oleh banyak penulis: ya, terlepas dari keputusan Dewan yang menentangnya.” "Minggu adalah hari Sabat (Sunday a Sabbath)." John Ley, hal.163. London: 1640.
Abad Ketiga
Tertullian, Bapa Ahli Teologia Latin (155–220 M)
“Oleh sebab itu Kristus sama sekali tidak membatalkan hari Sabat; Dia memelihara hukum, ... bahkan dalam kasus yang kita lihat Dia memenuhi hukum, sambil menafsirkan aturannya. Selain itu, Dia menunjukkan dalam terang yang jelas jenis pekerjaan yang berbeda, sambil melakukan apa yang diperbolehkan oleh hukum Taurat sesuai kesucian hari Sabat itu sambil memberi arti pada hari Sabat itu sendiri, yang sejak awal telah dikuduskan atas kebijakan Bapa, dimana tambahan kekudusan oleh tindakan kebajikan-Nya sendiri, sebab Dia memberi perlindungan Ilahi sampai hari ini, – terhadap jalan yang akan ditempuh oleh musuh-Nya untuk mengganti dengan hari yang lain dan menghindari penghormatan akan Sabat dari Sang Pencipta, dengan memulihkan pekerjaan yang pantas dilakukan pada hari Sabat.” Against Marcion, Buku IV, Bab XII.
Origen dari Alexandria, Ahli Filsafat & Teologia (185–254 M)
Menerangkan Ibrani 4:9, dia menulis: "Adalah pantas bagi siapa saja yang benar untuk memelihara perayaan Sabat. Masih ada sabbathismus, yaitu pemeliharaan Sabat, bagi umat Tuhan.” Homily on Numbers 23, Pa.4, “Patrologia Graecam,” Vol.12, 749-750.
Afrika (Alexandria) Origen
“Setelah perayaan korban yang tak henti-hentinya (penyaliban) diletakkan perayaan kedua hari Sabat, dan adalah wajar bagi siapa saja yang benar di antara orang-orang kudus untuk memelihara juga perayaan Sabat. Oleh karena itu tetap ada sabatismus, yaitu pemeliharaan Sabat, bagi umat Allah (Ibrani 4:9).” "Homili tentang Bilangan 23 (Homily on Numbers 23)," par.4, in Migne, "Patrologia Graeca," Vol. 12, kol. 749, 750.
Aphrahat - Penulis Kristen, Pemimpin dan Uskup di Persia (270–345 M)
“Ini adalah argumen yang telah saya tulis, bahwa hari Sabat diberikan untuk istirahat bagi setiap makhluk yang lelah karena kerja keras... marilah kita memelihara hari Sabat Allah, dalam cara yang menyenangkan bagi kehendak-Nya. Marilah kita masuk ke dalam hari Sabat perhentian di mana langit dan bumi beristirahat pada Sabat, semua makhluk akan tinggal dalam damai dan beristirahat.” Aphrahat Demonstration 13: Tentang Hari Sabat.
Archelaus – Uskup Ortodoks Kristen dari Carrhae (abad ketiga)
“Sekali lagi, mengenai pernyataan bahwa hari Sabat telah dihapuskan, kami degan tegas menyangkal bahwa Dia telah menghapuskannya sebab Dia sendiri juga adalah Tuhan atas hari Sabat.” Ad Calcem Disputatio Archelai Episcopi Adversus Manichaeum, 1695.
Para Bapa Anti-Nicea
“Kamu harus memelihara hari Sabat, berdasarkan Dia yang berhenti dari pekerjaan penciptaan-Nya, tapi tidak berhenti dari pekerjaan pemeliharaan-Nya: hari itu adalah peristirahatan untuk merenungkan hukum, bukan untuk kemalasan tangan.” "Para Bapa Anti-Nicea (The Anti-Nicene Fathers)," Vol 7, hal. 413. Dari "Konstitusi para Rasul Suci (Constitutions of the Holy Apostles)," sebuah dokumen abad ke-3 dan ke-4.
“Sabat hari ketujuh... dikuduskan oleh Kristus, para Rasul, dan umat Kristen primitif, sampai Dewan Laodikia yang terang-terangan menghapus pengamatan itu." —Disertasi pada Hari Tuhan (Dissertation on the Lord's Day), hal. 33, 34.
“Kecuali kamu membuat hari Sabat sebagai Sabat yang sesungguhnya, (Bah. Yunani, merayakan hari Sabat) kamu tidak akan melihat Bapa.” "The oxyrhynchus Papyri," pt.1, hal. 3, Logion 2, verso 4-11 (London Offices of the Egypt Exploration Fund, 1898).
Abad Keempat
Socrates Scholasticus (380-439 M)
“Kendati hampir semua gereja di seluruh dunia merayakan misteri kudus pada hari Sabat setiap minggu, orang-orang Kristen di Aleksandria dan di Roma oleh sebab beberapa tradisi kuno, telah berhenti melakukan hal ini.” Socrates Scholasticus Historia Ecclesiastica Graece et Latine, Buku 5, Bab 22.
Italy - Milan
“Adalah praktek umumnya dari Gereja-gereja Timur; dan beberapa gereja di barat... Karena di Gereja Millaine (Milan);... tampaknya hari Sabtu dirayakan dengan sangat terhormat ... Bukan berarti gereja-gereja Timur, atau yang lain yang merayakan hari itu cenderung kepada Iudaisme (Yudaisme); tetapi bahwa mereka berkumpul pada hari Sabat, untuk menyembah Yesus, Kristus, Tuhan atas hari Sabat.” "Sejarah Sabat (History of the Sabbath)", Bagian 2, par. 5, hal.73, 74. London: 1636. Dr. Heylyn.
“Ambrosius, uskup Milan yang terkenal, mengatakan bahwa ketika dia berada di Milan dia merayakan hari Sabtu, tetapi ketika di Roma merayakan hari Minggu. Ini memunculkan peribahasa, 'Ketika Anda berada di Roma, lakukan seperti yang dilakukan Roma.” Heylyn, "Sejarah Sabat (The History of the Sabbath)" Tahun 1612.
Dari Palestina sampai India
“Sejak awal tahun 225 M ada keuskupan atau konferensi Gereja Timur (pemeliharaan Sabat) yang membentang dari Palestina ke India.” Mingana, "Penyebaran Awal Kekristenan (Early Spread of Christianity)." Vol.10, hal. 460.
“Dinasti Kushan di India Utara memanggil dewan pendeta Buddha yang terkenal di Vaisalia untuk membawa keseragaman di antara para biksu Buddha akan pemeliharaan Sabat mingguan mereka. Beberapa orang begitu terkesan dengan tulisan-tulisan Perjanjian Lama sehingga mereka mulai menguduskan hari Sabat.” Lloyd, "The Creed of Half Japan," hal. 23.
Bagian Timur, Arabia, Persia, India & Cina
“Umat Kristen kuno sangat berhati-hati dalam memelihara hari Sabtu, atau hari ketujuh... Jelas bahwa semua gereja di Timur, dan sebagian besar dunia, memelihara hari Sabat sebagai perayaan... Athanasius juga mengatakan kepada kita bahwa mereka mengadakan pertemuan religius pada hari Sabat, bukan karena mereka terinfeksi Yudaisme, tetapi untuk menyembah Yesus, Tuhan hari Sabat, Epifanius mengatakan hal yang sama.” "Antiquities of the Christian Church," Vol.II Buku XX, bab 3, sec.1, 66. 1137,1138.
“Mingana membuktikan bahwa pada tahun 370 M Kekristenan Abyssinian (gereja pemelihara Sabat) begitu populer sehingga direkturnya yang terkenal, Musacus, bepergian secara ekstensif ke Timur untuk mempromosikan gereja di Arab, Persia, India dan Cina.” "Kebenaran Menang (Truth Triumphant)," hal.308 (Catatan kaki 27). (Baca Online version of Truth Triumphant. Nomor halaman bervariasi untuk versi online).
Spnyol
“Kanon 26 dari Dewan Elvira mengungkapkan bahwa Gereja Spanyol pada waktu itu memelihara hari Sabtu, hari ketujuh. "Mengenai puasa setiap Sabat: Diputuskan, bahwa kesalahan puasa setiap hari Sabat diperbaiki." Resolusi dewan ini bertentangan langsung dengan kebijakan yang telah diresmikan oleh gereja di Roma, yang memerintahkan hari Sabat sebagai hari puasa untuk mempermalukan dan membuatnya dibenci oleh orang-orang.
Ini adalah titik yang menarik lebih lanjut untuk dicatat bahwa di timur laut Spanyol dekat kota Barcelona ada sebuah kota bernama Sabadell, di sebuah distrik yang awalnya dihuni oleh orang-orang yang disebut "Valldenses" dan Sabbatati.” Council Elvira tahun 305 M, Spanyol.
Persia 335-375 M (40 Tahun Penganiayaan di Bawah Kekuasaan Shapur II)
“Keluhan populer terhadap orang-orang Kristen - "Mereka membenci dewa matahari kita, mereka mengadakan kebaktian ilahi pada hari Sabtu, mereka menodai bumi yang suci dengan menguburkan orang mati mereka di dalamnya.” (Kebenaran Menang (Truth Triumphant, Online Version), hal. 261).
“Mereka membenci dewa matahari kita. Bukankah Zorcaster, pendiri suci kepercayaan ilahi kita, melembagakan hari Minggu seribu tahun yang lalu untuk menghormati matahari dan menggantikan Sabat Perjanjian Lama. Namun orang-orang Kristen ini mengadakan kebaktian ilahi pada hari Sabtu.” O'Leary, "Gereja dan Para Bapa Suriah (The Syriac Church and Fathers)," hal.83, 84.
Dewan Laodikia (Council Laodicea) - Tahun 365 M
“Kanon 16 - Pada hari Sabtu, Injil dan bagian-bagian lain dari Kitab Suci harus dibacakan dengan lantang. Kanon 29 – Orang-orang Kristen tidak boleh mengYahudikan dan menganggur pada hari Sabtu, tetapi harus bekerja pada hari itu; tetapi mereka khususnya harus menghormati hari Tuhan, dan sebagai orang Kristen, jika mungkin, haruslah tidak melakukan pekerjaan pada hari itu.” “Dewan Hefele (Hefele's Councils)” Vol. 2, b. 6.
Kesimpulan
Di abad pertama setelah kenaikan Yesus ke surga, gereja mula-mula yang dibangun oleh para rasul tetap meneruskan pemeliharaan akan Sabat Hari Ketujuh. Pada abad kedua, ajaran hari Tuhan yaitu pemeliharaan hari Minggu disamping pemeliharaan hari Sabat yang benar, perlahan mulai memasuki gereja-gereja Kristen. Dan akhirnya pada Dewan Laodikia, sesuai yang didokumentasikan dalam Kanon 29, mereka dengan terang-terangan melarang untuk berhenti pada hari Sabtu dengan mewajibkan hari Minggu sebagai hari perhantian dengan menyebut hari itu sebagai “Hari Tuhan”.
Yolanda Kalalo-Lawton
www.agapekasih.org
24 Januari 2026
Baca artikel lain sehubungan dengan topik ini:
Pentingnya Kuduskan Sabat Hari Ketujuh
Sabbath Hari Ketujuh Tak Pernah Berubah
