Mengapa Yesus Harus Mati?

Mengapa Yesus Harus Mati?

Oleh Yolanda Kalalo-Lawton
www.agapekasih.org


Tuhan itu Terang,  Kudus, Benar & Sumber Hidup


Bermula di taman Eden kala Adam dan Hawa memakan buah terlarang, jubah sinar kemuliaan mereka hilang (Kej. 3:7). Jubah sinar itu dirancang Tuhan sebagai pelindung yang memampukan mereka berhadapan langsung dengan sinar dahsyat Sang Pencipta tanpa bahaya radiasi mematikan. Tuhan adalah api yang menghanguskan (Ibrani 12:29).


Dalam buku Yohanes, Yesus menyebut diriNya “terang” (Yoh. 8:12, 9:5, 12:46). TerangNya jauh lebih dahsyat dari matahari. Bayangkan...sinar matahari saja sudah cukup menghanguskan, apalagi Penciptanya! (Baca Kel. 4:24; 9:3; Ibrani 12:29).


Dalam Ke-Allahan, terang berarti juga kudus (Imamat 11:44-45, Maz. 86:2, 1 Pet. 1:16) atau benar/kebenaran (Yoh. 14:6, 18:37) atau hidup (Yoh 14:6). Akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, bukan saja mereka kehilangan jubah  sinar pelindung dari radiasi, jaringan penghubung hidup terputus dari sumbernya. Sejak itu, tampak tanda-tanda kematian. Daun-daun jatuh dan layu, dan saat-saat indah pertemuan dengan Sang Pencipta berubah menjadi saat yang menakutkan. Mereka lari bersembunyi ketika mendengar langkah-langkah kaki Yesus yang datang untuk menemui mereka. Mereka tak tahan untuk berhadapan langsung dengan Sang Pencipta. Fakta itu menunjukkan suatu pelajaran yang sangat penting; Tuhan bukan pemerintah angkuh dan bertangan besi seperti tuduhan Setan tetapi Adam yang memilih untuk memutuskan perlindungan dan jalinan hidup dari sumbernya. Sama seperti lampu listrik yang padam karena kabel jaringan listrik diputuskan.


Dalam keadaan terpisah, seluruh bumi berubah menjadi gelap dan terkarantina. Ibarat ranting yang patah dan jatuh ke tanah, ranting itu sama sekali tak berdaya menyambungkan dirinya kembali dengan batang pohonnya. Akibatnya, proses kematian ranting yang terpisah itu sudah pasti. Ranting itu pasti kering dalam hitungan waktu. Demikian juga dengan keadaan Adam dan Hawa setelah jatuh. Dalam kondisi sekarat, Adam, Hawa dan keturunan mereka sama sekali tak berdaya untuk menyambungkan diri kita dengan Sumber Hidup itu, selain menerima kenyataan yaitu maut!


Tuhan Maha Kasih


Kita patut bersyukur bahwa Yesus Kristus yang tanpa pamrih merelakan DiriNya menjadi jalan penghubung surga dan dunia (Yoh. 14:6). Yesus meninggalkan singgasana muliaNya, dan memilih untuk menjalani maut, terpisah dari Bapa yang dikasihiNya demi menyelamatkan bumi yang gelap, terkarantina tanpa harapan. Tuhan adalah kasih (1 Yoh. 4:8 & 16). Inilah jantung Injil yang tertulis dalam Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”


Sangat besar dan hebatnya kuasa Tuhan, mudah bagiNya untuk menciptakan kembali manusia yang lain yang tak berdosa, namun Bapa dan Anak memilih solusi yang paling menyedihkan! Tindakan mereka adalah pengorbanan termahal, terbesar, tersulit dan teragung yang pernah dilakukan oleh siapapun di seluruh alam semesta! Pemberian terbesar itu dianugerahkan dengan Cuma-Cuma bagi semua manusia yang percaya dan berharap padaNya. Inkarnasi dan salib adalah manifestasi kasih teragung Bapa dan Anak. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh. 15:13).

 

Tuhan Maha Adil dan Sempurna


Setiap pemerintahan memiliki landasan hukum. Hukum Allah tidak dimaksudkan untuk mengekang, sebaliknya untuk memberi kesejahteraan bagi semua makhluk hidup. Ketika Tuhan menciptakan elemen-elemen bumi,  Dia menetapkan aturannya. Aturan-aturan itu dapat menjadi berkat atau kutuk, tergantung pilihan kita. Misalnya elemen api dan air. Api dan air adalah berkat dalam kehidupan kita tapi jika api disentuh, kita pasti terbakar. Jika air tidak dibendung, air dapat membanjiri bumi dan mengakibatkan malapetaka.


Karena dosa Adam, semua keturunannya terlahir di alam yang sudah putus dari sumber hidup. Itulah sebabnya Alkitab menulis bahwa semua telah berdosa (Rom 3:23, 5:12). Tak ada seorangpun yang mampu menyambungkan kembali hidup fana dengan surga.


Adalah solusi tanpa pamrih dari Sang Pencipta dan Sang Anak, Yesus Kristus, bahwa Sang Putera mahkota pewaris tunggal surga harus meninggalkan singgasana muliaNya, menyisihkan mahkota agungNya dan menjelma menjadi manusia biasa, menderita bersama makhluk ciptaanNya dan rentan terhadap cobaan Setan.


Yesus harus mengalami kelahiran sebagai seorang bayi, bertumbuh sesuai hukum alam dan belajar menghormati serta menuruti semua hukum Bapa dengan sempurna. Kegagalan dan keberhasilan Yesus selama hidupNya di bumi adalah faktor penentu nasib semua manusia dan bahkan hidupNya Sendiri. Kegagalan memenuhi satu titikpun syarat tuntutan hukum Bapa yang sempurna, bukan saja dapat mengakibatkan musnahnya bumi untuk selamanya, bahkan Yesus memilih mempertaruhkan nyawaNya untuk selamanya hilang! Pintu kubur itu tak bakal terbuka jika kondisi kesempurnaan karakterNya tidak memenuhi syarat hukum Bapa! Dapatkah anda bayangkan betapa besarnya risiko pengorbanan Kristus itu?


Dari Mariam ibuNya, Yesus mewarisi tubuh layaknya seorang manusia. Dia merasa lapar, haus, lelah, sedih dan rentan akan cobaan setan. Oleh karena ibunya adalah manusia, secara biologi Yesus adalah Anak Manusia. Yesus menyebut DiriNya dengan “Anak Manusia” (Mat. 18:11). Namun dari BapaNya, Yesus mewarisi Roh Kudus yang murni, sempurna tanpa cacat dosa. Itulah sebabnya Alkitab menyebutNya Anak Kudus (Luk. 1:35).


Selama hidup Yesus di bumi, walau secara fisik terpisah dari Bapa, secara Roh, hidup Yesus tetap tersambung dengan sumber hidup kekal surga. Yesus mewarisi semua sifat Roh Bapa. Itulah sebabnya Yesus menyatakan bahwa Dia dan Bapa adalah Satu ( Yoh. 10:30; 8:16, 16:32). Anak ada dalam Bapa, dan Bapa diam dalam Anak (Yoh. 14:10-11).


Kesempurnaan ini adalah syarat utama hukum Bapa. Keadilan inilah yang harus dipenuhi, dimana tak satupun manusia keturunan Adam yang berkualifikasi untuk memenuhinya.



Pertentangan Antara Dua Saudara


Saat Lusifer memberontak di surga, kedudukannya berubah dari  seorang kerub, menjadi musuh Bapa. Karena pilihannya, Lusifer menempatkan dirinya sebagai partai oposisi. Itulah sebabnya dia disebut Setan.  Dia mewakili kemauannya dan pemerintahannya sendiri dan menantang pemerintahan Bapa.


Banyak tuduhan Lusifer yang ditujukan kepada Allah Bapa dan AnakNya.  Di antaranya adalah bahwa Hukum Bapa tidak diperlukan oleh para malaikat yang kudus, sebab sebagai makhluk intelijen, para malaikat dengan sendirinya mampu mengatur hidup mereka sendiri tanpa aturan-aturan Bapa. Lusifer juga menduh bahwa Allah Bapa tidak adil memberi kedudukan dan otorisasi lebih tinggi bagi Yesus, melebihi dirinya, yang mewajibkan Lusifer untuk menyembah Yesus sama seperti menyembah Bapa. Mengapa? Pikir Lusifer dalam hati. Bukankah dirinya juga tidak kalah mulia dari Yesus? Bukankah dirinya juga anak Bapa?


Benar bahwa Lusifer juga adalah anak Allah, bedanya bahwa Lusifer hanyalah anak yang diciptakan, sama seperti malaikat-malaikat rekannya. Sangat berbeda dengan Yesus. Yesus adalah satu-satunya Anak yang lahir dari Bapa. Secara biologis, Yesus otomatis mewarisi seluruh hakikat atau sifat alamiah Bapa. Yesus adalah Firman Bapa yang hidup (Yohanes 1). Sebagai Firman, Kalimat atau Buah Pikiran Bapa, Dia berasal dari dalam pikiran Bapa dan oleh kebijakan Bapa, Yesus dilahirkan sebagai makhluk pribadi yang dapat dilihat dan didengar oleh semua makhluk ciptaan lain di jagad raya. Jadi, sebab Yesus terlahir dari Bapa, Dia mewarisi Ke-Ilahian yang setara secara fisik, mental dan roh. Dia bukan makhluk ciptaan layaknya Lusifer atau Adam (Untuk pendalaman baca: “Kristus Dilahirkan Bukan Diciptakan”). Yesus adalah juga pewaris tunggal dari semua kuasa, teritori dan pemerintahan Bapa. Kelahiran litaralNya itulah yang memberiNya hak Ke-Allahan yang tak mungkin dimiliki oleh makhluk ciptaan (Untuk pelajaran mendalam, baca artikel: “Kristus Adalah Allah”).


Fakta inilah yang ditentang Lusifer. Dia membenci kewajibannya untuk menghormati dan menyembah Yesus. Pena inspirasi Ny. White dalam buku “Para Nabi Dan Bapa, Bab 1” menulis bahwa Lusifer adalah malaikat yang termulia yang diciptakan Allah. Dia adalah pemimpin dari semua malaikat surga. Lusifer tidak bermasalah dalam menyembah Allah Bapa, tapi dia bermasalah dalam menyembah Yesus, saudara sulungnya. Penolakan Lusifer untuk menyembah Yesus Kristus secara langsung menantang hukum dan otoritas Bapa. Lusifer merasa bahwa keputusan Bapa itu tidak adil. Dia menempatkans dirinya ebagai “korban” ketidakadilan hukum Bapa. Dia menuntut untuk disembah sama seperti kakaknya, Yesus. Allah dan Yesus dengan sabar memberi Lusifer kesempatan demi kesempatan untuk mengerti dan mematuhi hukum Allah, namun Lusifer tidak menggubris hukum tersebut. Demi kedamaian dan kesejahteraan seluruh penduduk surga, Lusifer harus dideportasi dari surga, dan dicampakkan ke Bumi (Yeh. 28:17; Yes. 14:12; Wah. 12:9).


Mungkin anda bertanya, mengapa Tuhan tidak membasmi Lusifer pada saat itu juga? Jika tidak ada Setan, Adam tidak jatuh ke dalam dosa dan bumi akan terhindar dari akibat kutukan dosa. Dari buku yang sama, “Para Nabi Dan Bapa, Bab 1”, Ny. White menulis bahwa Tuhan dapat saja dengan mudah menghancurkan Setan untuk selamanya, namun Dia tidak melakukannya sebab Tuhan itu adil dan kasih dalam waktu bersamaan. Tuhan tidak menginginkan pelayanan terpaksa. Paksaan bukan karakter Tuhan. Itu sebabnya Tuhan  memberi hak memilih bagi setiap insan ciptaanNya. Dia hanya menerima pelayanan yang didorong oleh kasih, oleh pilihan kita sendiri. Tapi hal ini harus dibuktikan agar semua ciptaanNya dapat mengalami dan mengerti pemerintahan siapa sebenarnya yang lebih baik. Maka kesempatan diberikan pada Lusifer untuk menerapkan pemerintahannya. Saat ini, seluruh alam semesta sedang mengamati pertentangan antara dua kuasa pemerintahan yang baik dan yang jahat.


Sejak dicampakkan ke bumi dan berhasil mengalahkan Adam sebagai pemerintah bumi yang pertama, Lusifer menjadi raja bumi. Semua tipuan, tindasan, paksaan, kesengsaraan, malapekata dan pembunuhan adalah tindakan jahat Setan dan akibat kutukan dosa. Lusifer, seperti yang saya sebutkan di atas, adalah malaikat yang berkedudukan tertinggi di antara pada malaikat surga. Dia sangat berkuasa (Yeh. 28:14-15; Yes. 14:12). Kuasanya itu jauh melebihi kuasa manusia .


Hanya Yesus Yang Memiliki Kuasa Lebih Tinggi


Kuasa Lusifer tidak dihilangkan kala dia dideportasi dari surga. Untuk itu, tak ada satu makhlukpun yang mampu mengalahkannya selain Yesus Penciptanya! Pertentangan ini adalah masalah pribadi antara dua anak; yakni Yesus, Anak karena dilahirkan dan Lusifer, anak karena diciptakan.  Sebagai Yang Maha Adil, Allah Bapa harus membiarkan pertandingan itu terjadi demi  keadilan hukumNya dan demi membuktikan kebenaran pemerintahanNya!

Oleh karena Yesus adalah Firman (Yoh. 1:1), yaitu satu-satunya Anak yang benar-benar lahir dari dalam pikiran Bapa,  hanya Yesuslah yang benar-benar tahu dan mengerti persis akan luas dan dalamnya kemauan, pikiran atau karakter Bapa. Untuk menunjukkan kebenaran karakter Bapa itulah Yesus rela datang ke bumi.


Inkarnasi Yesus itu menunjukkan bahwa kendati Dia adalah Anak lahir Bapa yang pada hakikatnya mewarisi hak-hak istimewa, Dia memilih untuk selalu menuruti kehendak Bapa, tanpa menyayangkan nyawaNya! (Fil. 2:8). Kita semua telah menyaksikan betapa kontrasnya sifat penurut dan sifat rendah hati Yesus versus sifat congkak dan sifat pembangkang Lusifer!


Rencana Keselamatan


Tuhan yang Maha Tahu tentu saja sudah mengetahui bahwa Adam akan jatuh. Sebelum fondasi bumi diletakkan, Yesus telah berjanji untuk mengorbankan diriNya demi menebus Adam dan turunannya (Wah. 13:8). Cakupan pengorbananNya itu sangat luas, sebab pengorbanan itu akan membuktikan bahwa hukum Tuhan itu benar, adil, baik, sempurna, tidak berubah, yang dalam waktu yang sama penuh kasih, panjang sabar, pengampun, murah hati, rendah hati dan tidak mementingkan diri.


Bagi para penduduk surga dan planet-planet lain di jagad raya, sifat kontras dari pemerintahan Bapa dan Yesus versus pemerintahan Setan terlihat jelas sejak kelahiran Yesus sampai kematianNya di Salib. Salib itu mengakhiri rasa simpati terakhir dari rekan-rekan malaikat terhadap Lusifer.  Seperti kedok yang tersingkap, mereka melihat bahwa tuduhan-tuduhan yang dilontarkan Lusifer terhadap Bapa dan Yesus itu sebenarnya adalah pantulan karakter Setan sendiri. Lusiferlah pemimpin yang tidak adil, egois, kejam, penuh dusta dan pembunuh (Yohanes 8:44).


Bagi para penduduk bumi, kita semua berada di bawah kuasa hipnotis Setan. Dengan kekuatan sendiri, kita tidak berdaya membebaskan diri dari kontrol ilmu sihir Setan. Kita lahir dengan hidup yang sekarat dan terpisah dari Sumber Hidup. Itulah sebabnya kita condong berbuat jahat dan mudah mempercayai dusta Setan daripada mempercayai kebenaran Yesus!

Ketidakberdayaan manusia inilah yang menyebabkan Yesus harus mananggalkan jubah terang kemuliaanNya dan datang ke bumi yang gelap, rela merendahkan diriNya untuk diludai, dihina, dicaci-maki, dianiaya dan dengan kejam dibunuh oleh agen-agen Setan.


Setan merasa menang kala dia berhasil menyebabkan kejatuhan Adam dan Hawa, yang tampaknya membenarkan tuduhannya bahwa tak ada seorangpun yang mampu menjalani tuntutan hukum Allah  dengan sempurna. Benar bahwa dalam keadaan manusia yang jatuh, tak seorangpun yang memenuhi persyaratan hukum yang sempurna itu sebab semua kita telah dilemahkan oleh dosa (Roma 3:23, Yesaya 53:6. Baca juga: “Apakah Dosa Itu?”).


Oleh sebab itu, penurutan sempurna Yesus selama menjalani kehidupan sebagai manusia, menyempurnakan syarat hukum Allah dan membuktikan bahwa tuduhan Setan tidak benar. Oleh karena penurutan sempurna Yesus, manusia memiliki seorang wakil  yang sempurna.


Yesus Sebagai Pencipta


Roma 6:23 menulis bahwa “Upah dosa adalah maut; tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Yesus Kristus, Tuhan kita.” Yesus sebagai Firman Bapa (Yohanes 1:1) adalah Firman yang sama menciptakan Adam yang pertama di Taman Eden. Oleh karena Adam dan keturunannya menempatkan diri mereka dalam jalur menuju maut, resiko kepunahan umat manusia adalah pasti. Yesus—Sang Pencipta, menempatkan dirinya sebagai tumbal pengganti Adam pertama dan menempatkan diriNya menjalani upah dosa Adam.


Kebangkitan Yesus adalah bukti bahwa upah dosa itu telah dibayar lunas. Keadilan hukum telah ditegakkan, dan Kristus berkuasa membuka pintu kubur dan maut.  Kegagalan Adam yang pertama, disempurnakan oleh Yesus sebagai Adam yang baru atau Adam yang terakhir (1 Kor. 15:45). Oleh kemenanganNya, Yesus menjadi buah sulung kita (Kol. 1:18; 1 Kor 15:20; Wah. 1:5). Di dalam Dia, kita adalah ciptaan baru (2 Kor. 5:17; Ef. 2:10; Kol. 3:1; 1 Pet. 1:23). Oleh karena Yesus adalah Firman yang mencipta, Dia berhak menciptakan kembali manusia yang baru, tanpa membiarkan turunan Adam pertama sama sekali punah.

Itulah sebabnya tak ada seorang makhluk di seluruh jagad raya yang dapat menggantikan posisi Kristus. Sebagai Anak Allah, Yesus memiliki otoritas untuk berinkarnasi dan menyerahkan nyawaNya (Yoh. 10:17-18). Sebagai Firman Allah, Kristus memiliki otoritas untuk mencipta dan membangkitkan atau memberi hidup (Yoh. 1:4; 14:6; 6:63; Roma 8:2; Neh. 9:6) yang sederajat dengan Bapa (Baca: “Kristus Dilahirkan Bukan Diciptakan”).


Penutup


Satu hal yang tak dapat dilakukan oleh Tuhan ialah mengubah identitas dan karakterNya. Kematian Kristus adalah konfirmasi bahwa hukum Bapa itu kekal dan tidak berubah sebab hukum itu adalah cerminan kesempurnaan hakikatNya. Hukum itu kudus sekudus karakterNya dan kekal sekekal pribadiNya.


Salib adalah potret kasih tak terhingga yang kedalaman, ketinggian dan luasnya melebihi seluruh alam semesta. Salib adalah satu-satunya solusi dimana keadilan dan kasih Tuhan bertemu dan saling berangkulan! Tak ada cara lain, tak ada makhluk lain yang dapat menjalani apa yang dijalani Tuhan Yesus Juruselamat kita!

Yolanda Kalalo-Lawton
www.agapekasih.org
07 April 2026

Artikal-artikel yang berhubungan:

-Jika Yesus Allah, Mengapa Bisa Mati?

-Apakah Dosa Itu?

-Kemanusiaan Kristus

-Mengapa Dosa Diizinkan?

-Yesus Kristus Adalah Allah

-Kristus Dilahirkan Bukan Diciptakan

-Pencobaan Dan Kejatuhan

-Penciptaan